share your knowledge here

CTL

1.        Pengertian Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan 7 komponen utama pembelajaran afektif, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, permodelan, refleksi dan penilaian yang sebenarnya(Nurhadi,2002:5).

Johnson ( dalam Nurhadi,2002:12) merumuskan pengertian CTL sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL akan menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya.

2.        Karakteristik Contextual Teaching and Learning (CTL)

Menurut Johnson (dalam Nurhadi, 200:4) terdapat delapan utama yang menjadi karakteristik pembelajaran kontekstual, yaitu

1.        Melakukan hubungan yang bermakna

2.        Mengerjakan pekerjaan yang berarti

3.        Mengatur cara belajar sendiri

4.        Bekerja sama

5.        Berpikir kritis dan kreatif

6.        Mengasuh atau memelihara pribadi siswa

7.        Mencapai standar yang tinggi

8.        Menggunakan penilaian sebenarnya

Nurhadi (2003:20) menyebutkan dalam kontekstual mempunyai sebelas karakteristik antara lain yaitu:

1.         Kerja sama.

2.         Saling menunjang.

3.         Menyenangkan.

4.         Belajar dengan bergairah.

5.         Pembelajaran terintegrasi.

6.         Menggunakan berbagai sumber.

7.         Siswa aktif.

8.         Sharing dengan teman .

9.         Siswa akti, guru kreatif.

10.     Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.

11.     Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain.

Priyatni(2002:2) menyatakan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan dengan CTL memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.    Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang autentik, artinya pembelajaran diarahkan agar siswa memiliki ketrampilan dalam memecahkan masalah dalam konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).

2.    Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).

3.    Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa melalui proses mengalami (learning by doing).

4.    Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengkoreksi (learning in a grup).

5.    Kebersamaan, kerja sama saling memahami dengan yang lain secara mendalam merupakan aspek penting untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (learning to know each other deeply).

6.    Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif dan mementingkan kerja sama ( learning to ask, to inquiry, to work together).

7.    Pembelajaran dilaksanakan denagn cara yang menyenangkan( learning as an enjoy activity).

Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen  utama dari pembelajaran produktif yaitu : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modelling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2003:5).

1.    Konstruktivisme (Constructivism)

Setiap  individu  dapat  membuat  struktur  kognitif  atau mental berdasarkan pengalaman mereka maka setiap individu dapat membentuk konsep atau ide baru, ini dikatakan sebagai konstruktivisme (Ateec, 2000). Fungsi guru disini membantu membentuk konsep tersebut melalui metode penemuan (self-discovery), inquiri dan lain sebagainya, siswa berpartisipasi secara aktif dalam membentuk ide baru. Menurut Piaget pendekatan konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu :

  1. Mengandung pengalaman nyata (Experience);
  2. Adanya interaksi sosial (Social interaction)
  3. Terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (Sense making)
  4. Lebih memperhatikan pengetahuan awal (Prior Knowledge)

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Berdasarkan pada pernyataan tersebut, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan (Depdiknas, 2003:6).

2.    Bertanya (Questioning)

Bertanya  merupakan  strategi  utama  dalam  pembelajaran kontekstual. Kegiatan bertanya digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis  inquiry.  Dalam  sebuah  pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :

  1. Menggali informasi, baik administratif maupun akademis
  2. Mengecek pengetahuan awal siswa dan pemahaman siswa
  3. Membangkitkan respon kepada siswa
  4. Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa
  5. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
  6. Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
  7. Menyegarkan kembali pengetahuan siswa

3.    Menemukan (Inquiry)

Menemukan  merupakan  bagian  inti  dari  pembelajaran  berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri (Depdiknas, 2003). Menemukan atau inkuiri dapat diartikan juga sebagai proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:

  1. Merumuskan masalah
  2. Mengajukan hipotesis
  3. Mengumpulkan data
  4. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
  5. Membuat kesimpulan

Melalui proses berpikir yang sistematis, diharapkan  siswa  memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis untuk pembentukan kreativitas siswa.

4.    Masyarakat belajar (Learning Community)

Konsep  Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar itu diperoleh dari sharing antarsiswa, antarkelompok, dan antar yang sudah tahu dengan yang belum tahu tentang suatu materi. Setiap elemen masyarakat dapat juga berperan disini dengan berbagi pengalaman (Depdiknas, 2003).

5.    Pemodelan (Modeling)

Pemodelan dalam pembelajaran kontekstual merupakan sebuah keterampilan atau pengetahuan tertentu dan menggunakan model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuau. Dalam arti  guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Menurut Bandura dan Walters, tingkah laku siswa baru dikuasai atau dipelajari mula-mula dengan mengamati dan meniru suatu model. Model yang dapat diamati atau ditiru siswa digolongkan menjadi :

1.    Kehidupan yang nyata (real life), misalnya orang tua, guru, atau orang lain.;

2.    Simbolik (symbolic), model yang dipresentasikan secara lisan, tertulis atau dalam bentuk gambar ;

3.    Representasi (representation), model yang dipresentasikan dengan menggunakan alat-alat audiovisual, misalnya televisi dan radio.

6.    Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru. Struktur pengetahun yang baru ini merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.  Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahun yang baru diterima (Depdiknas, 2003).

Pada kegiatan pembelajaran, refleksi dilakukan oleh seorang guru pada akhir pembelajaran. Guru menyisakan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan refleksi yang realisasinya dapat berupa :

1.    Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperoleh  pada pembelajaran yang baru saja dilakukan.;

2.    Catatan atau jurnal di buku siswa;

3.    Kesan dan saran mengenai pembelajaran yang telah dilakukan.

7.    Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)

Penilaian autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa agar guru dapat memastikan apakah siswa telah mengalami proses belajar yang benar. Penilaian autentik menekankan pada proses pembelajaran sehingga data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.

Karakteristik authentic assessment menurut Depdiknas (2003) di antaranya: dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang  diukur keterampilan dan sikap dalam belajar bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feedback. Authentic assessment biasanya berupa kegiatan yang dilaporkan, PR, kuis, karya siswa, prestasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis dan karya tulis.

3.        Penerapan CTL pada pokok bahasan persegi panjang.

Contoh soal :

  1. Menghitung luas persegi panjang dengan panjang 8 satuan  dan lebar 5 satuan

Guru yang realistik memulai pembelajaran menemukan rumus luas persegi panjang dengan memberikan masalah kontekstual pada siswa untuk diselesaikan secara berkelompok seperti contoh berikut:

  • Langkah-1

Guru mengajak siswa menghitung luas lantai yang dibatasi dengan tali membentuk persegi panjang dengan menghitung banyaknya ubin yang dibatasi tali tersebut.

  • Langkah-2

Guru dapat menggambarkan persegi panjang yang di lantai pada papan tulis atau guru menggambarkannya pada lembar kertas yang telah disiapkan guru sebelumnya. Selanjutnya siswa disuruh menghitung luas persegi panjang apabila 1 ubin merupakan satuan luas

  • Langkah-3

Guru memberikan kebebasan pada siswa untuk menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri untuk mendapatkan luas persegi panjang. Kemudian guru meminta masing-masing kelompok untuk menuliskan jawabannya di papan tulis dan sekaligus mengkomunikasikannya dengan kelompok lain dari mana jawaban tersebut diperoleh atau alasannya mendapatkan jawaban tersebut. Maka alternatif jawaban siswa adalah sebagai berikut:

  • Alternatif-1

Dengan membilang satu persatu persegi satuan, maka diperoleh jawaban siswa: Luas = 40 satuan luas

  • Alternatif-2

Dengan menjumlah persegi satuan pada tiap-tiap kolom, maka diperoleh jawaban siswa:

Luas = (5+5+5+5+5+5+5+5)satuan luas = 40 satuan luas

  • Alternatif-3

Dengan menjumlah persegi satuan pada tiap-tiap baris, maka diperoleh jawaban siswa :

Luas = (8+8+8+8+8) satuan = 40 satuan luas

  • Alternatif-4

Dengan menjumlah persegi satuan pada tiap-tiap baris, kemudian siswa mengubahnya dalam kalimat perkalian, maka diperoleh jawaban siswa:

Luas =5 x 8 = 40 satuan luas( 8 nya ada 5 dituliskan 5 x 8 dan 40 diperoleh dari hasil perhitungan banyaknya persegi satuan pada persegi panjang)

  • Alternatif-5

Dengan langsung mengalikan banyaknya kolom dan baris atau mengalikan baris dan kolom,, maka diperoleh jawaban siswa:

Luas =5 x 8 = 40 satuan luas atau Luas =8 x 5 = 40 satuan luas

Luas == (8+8+8+8+8) satuan  = 40 satuan luas

  • Langkah-4

Guru harus menyikapi jawaban siswa yang salah maupun yang benar. Apabila jawaban siswa salah guru tidak boleh langsung menyalahkan tetapi harus meihat alas an jawaban dari siswa, baru dari jawaban siswa ini siswa digiring atau dimotivasi kepada jawaban yang benar

Untuk alternatif semua jawaban yang benar seperti contoh diatas, maka guru membenarkan semua jawaaban, kemudian guru ,memberikan kesempatan berpikir siswa dari semua alternatif jawaban yang benar, jawaban mana yang paling mudah dan gampang dikerjakan.guru perlu mendengarkan jawaban siswa dan memberikan gambaran pada siswa yang bisa menjadi pertimbangan pada siswa

DAFTAR  PUSTAKA

 

 

Alwasilah,A.Chaedar. 2006. Contextual Teaching and Learning. Bandung: Mizan Learning Center.

http://www.google.com/karakteristik-ctl.html// diakses tanggal 28 maret 2011

http://www.google.com/pengertian-ctl.html// diakses tanggal 28 maret 2011

Sanjaya,Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Zaini,Hisyam dkk. 2007. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD (Center For Teaching Staff  Development)  IAIN Sunan Kalijaga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: