share your knowledge here

Cooperative Learning

1.        Model Pembelajaran  Cooperative Learning

Pembelajaran cooperative Learning adalah konsep yang lebih luas meliputi semua semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Teori konstruktivisme sosial Vygotsky telah meletakkan arti penting model pembelajaran kooperatif. Konstruktivisme sosial Vygotsky menekankan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi secara mutual. Peserta didik berada dalam konteks sosiohistoris. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi mereka mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman. Vigotsky menekankan peserta didik mengonstruksi pengetahuan dengan mentransformasikan, mengorganisasikan dan mereorganisasikan pengetahuan dan informasi melalui interaksi sosial dengan orang lain. Isi pengetahuan dipengaruhi oleh kultur dimana peserta didik tinggal. Kultur itu meliputi bahasa, keyakinan, keahlian/keterampilan.

Dukungan lain dari teori Vygotsky terhadap model pembelajaran kooperatif adalah arti penting belajar kelompok. Chaplin mendefinisikan kelompok sebagai “a collection of individuals who have some characteristic in common or who are pursuing a common goal. Two or more persons who interact in any way constitute a group. It is not necessary, however, for the members of a group to interact directly or in face to face manner”.

Berdasarkan pengertian diatas dikemukakan bahwa kelompok itu dapat terdiri dari dua orang saja atau lebih. Menurut Shaw satu ciri yang dipunyai oleh semua kelompok yaitu anggotanya saling berinteraksi, saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Interaksi adalah saling mempengaruhi, individu satu dengan individu yang lain. Tujuan dalam kelompok dapat bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Tujuan intrinsik adalah tujuan yang didasarkan pada alasan bahwa dalam kelompok perasaan menjadi senang. Tujuan ekstrinsik adalah tujuan yang didasarkan bahwa untuk mencapai sesuatu tidak dapat dicapai sendiri, melainkan harus dikerjakan bersama-sama. Struktur kelompok menunjukkan bahwa dalam kelompok diperlukan peran semua anggota.

Roger dan David Johnson mengatakan bahwa  tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang optimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut adalah:

  1. Positive interdependence (saling ketergantungan positivf)
  2. Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)
  3. Face to face promotive interaction (interaksi promotif)
  4. Interpersonal skill (komunikasi antar anggota)
  5. Group processing (pemrosesan kelompok)

Unsur pertama pembelajaran kooperatif adalah saling ketergantungan positif. Unsur ini menunjukkan ada bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua pertanggung jawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut. Unsur kedua pembelajaran kooperatif adalah tanggung jawab individual. Beberapa cara menumbuhkan tanggung jawab perseorangan adalah:

  1. Kelompok belajar jangan terlalu besar
  2. Melakukan assesmen terhadap siswa
  3. Memberi tugas kepada siswa untuk mempresentasikan hasil kelompok di depan kelas
  4. Mengamati setiap kelompokdan mencatat frekuensi individu dalam membantu kelompok
  5. Menugasi seorang peserta didik sebagai pemeriksa di kelompoknya
  6. Menugasi peserta didik mengajar temannya.

Unsur ketiga pembelajaran kooperatif adalah interaksi promotif. Unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. Unsur keempat pembelajaran kooperatif adalah keterampilan sosial. Unsur kelima adalah pemrosesan kelompok. Pemrosesan mengandung arti menilai.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.

 

  1. 2.             Macam-macam Metode Pembelajaran Cooperative Learning
    a.      Jigsaw

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini pertama kali dikembangkan oleh Aronson, dkk. Langkah-langkah dalam penerapan jigsaw adalah sebagai berikut.

Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah serta jika mungkin anggotakelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan  tujuan pembelajaran yang akan dicapai.   Dalam tipe jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah  satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG).

Dalam kelompok ahli siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal.  Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi gergaji).

 

 

 

 

 

 

 

Contoh pembentukan kelompok jigsaw sebagai berikut.

 

Misal suatu kelas dengan jumlah siswa 40, dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh dalam diskusi di kelompok ahli serta  setiap siswa menyampaikan  apa yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan. Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual. Guru memberikan  penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini). Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.

Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

 

b.      Numbered Heads Together (NHT)

Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagen  (1993). Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap  materi pembelajaran.

Langkah-langkah penerapan NHT:

  1. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
  2. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan

skor dasar atau awal.

  1. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4–5 siswa, setiap anggota kelompok diberi nomor atau nama.
  2. Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
  3. Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu

nomor(nama) anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari kelompok.

  1. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan,  dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran.
  2. Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual .
  3. Guru memberi penghargaan pada kelompok melalui  skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor

dasar ke skor kuis berikutnya(terkini).

 

c.       Group Investigation

Dalam grup investigation para murid bekerja melalui enam tahap.

  1. Mengidentifikasikan topik dan mengatur murid kedalam kelompok
  • Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik dan mengkatagorikan saran-saran.
  • Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang mereka pilih.
  • Komposisi kelompok berdasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen.
  • Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.
  1. Merencanakan tugas yang ingin dipelajari.

Para siswa merencanakan bersama mengenai :

Apa yang kita pelajari?

Bagaimana kita mempelajarinya?

Siapa melakukan apa? (pembagian tugas)

Untuk kepentingan apa kita menginvestigasi topik ini?

  1. Melaksanakan investigasi.
  • Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.
  • Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya.
  • Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mensistesis semua gagasan.
  1. Menyiapkan laporan akhir.
  • Anggota kelompok menentukan pesan-pesan, esensial dari proyek mereka.
  • Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka.
  • Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi
  1. Mempresentasikan laporan akhir
  • Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk.
  • Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif.
  • Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh seluruh anggota kelas.
  1. Evaluasi.
  • Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai keefektifan, pengalaman-pengalaman mereka.
  • Guru dan murid bekolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
  • Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi.

 

  1. d.      Two Stay Two Stray

Model pembelajaran Two Stay Two Stray / Dua Tinggal Dua Tamu merupakan model pembelajaran yang memberi  kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan dengan cara saling mengunjungi/bertamu antar kelompok untuk berbagi informasi.

Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :

1.      Siswa bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang.

2.      Setelah selesai, dua orang dari masing-masing menjadi tamu kedua kelompok yang lain.

3.      Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka.

4.      Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.

5.      Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka.

6.      Kesimpulan..

 

 

 

e.       Make a Match

Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:

  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.

2.      Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.

3.      Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.

4.      Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah).

5.      Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.

6.      Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.

7.      Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.

8.      Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.

9.      Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.

 

f.       Listening Team

Pembelajaran diawali dengan pemaparan materi pembelajaran oleh guru. Selanjutnya guru membagi kelas menjadi kelompok –kelompok, setiap kelompok mempunyai peran masing-masing. Kelompok pertama merupakan kelompok penanya, kelompok kedua merupakan kumpulan orang yang menjawab berdasarkan perspektif tertentu, kelompok ketiga kumpulan orang yang menjawab dengan perspektif yang berbeda dengan kelompok kedua dan kelompok keempat adalah kelompok yang bertugas mereview dan membuat kesimpulan dari hasil diskusi. Pembelajaran diakhiri dengan penyampaian kata kunci atau konsep yang telah dikembangkan oleh peserta didik dalam berdiskusi.

 

g.      Inside-Outside Circle

Pembelajaran inside-outside circle diawali dengan pembentukan kelompok. Satu kelas dibagi menjadi dua kelompok besar yang terdiri dari dua kelompok lingkaran dalam dan kelompok lingkaran luar. Anggota kelompok lingkaran dalam berdiri melingkar menghadap keluar dan anggota kelompok lingkaran luar berdiri menghadap kedalam sehingga saling berpasangan dan berhadap-hadapan. Kelompok ini disebut sebagai kelompok pasangan asal. Kemudian berikan tugas.

 

h.      The Power of  Two

Langkah-langkah:

  1. Berilah peserta didik satu atau lebih pertanyaan yang membutuhkan refleksi dan pikiran.
  2. Mintalah peserta didik untuk menjawab pertanyaan sendiri-sendiri.
  3. Setelah semua melengkapi jawabannya bentuklah kedalam pasangan dan mintalah mereka untuk berbagi jawaban dengan yang lain.
  4. Mintalah pasangan tersebut membuat jawaban baru untuk masing-masing pertanyaan dengan memperbaiki respon masing-masing individu.
  5. Ketika semua pasangan selesai menulis jawaban baru bandingkan jawaban dari masing-masing pasangan ke pasangan yang lain.

 

 

 

i.        TAI ( Team Assited Individualization  atau Team Accelarated Instruction)

Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assited Individualization  atau Team Accelarated Instruction). Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.

Langkah-langkah pmbelajaran kooperatif tipe TAI sebagai berikut.

  1. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
  2. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
  3. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 – 5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang dan rendah) Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.

Hasil belajar siswa secara individual  didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok  saling memeriksa jawaban teman satu kelompok. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan,  dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.  Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

 

j.        Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).

Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin dkk. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD:

  1. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
  2. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal.
  3. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 – 5
  4. siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah).
  5. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender. B
  6. Bahan materi yang telah dipersiapkan  didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai  kompetensi dasar. Pembelajaran kooperatif  tipe STAD, biasanya digunakan untuk penguatan pemahaman materi (Slavin, 1995).
  7. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan,  dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. f.  Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa  secara individual.
  8. Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

k.      CIRC ( Cooperative Integrated Reading and Composition)

CIRC adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling efektif dalam pembelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa. Unsur – unsur CIRC adalah :

1). Kelompok membaca

2). Tim

3). Kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan membaca.

 

Tahap – tahap kegiatannya adalah :

a). Membaca berpasangan

b). Menulis cerita yang bersangkutan dan tata bahasa cerita

c). Mengucapkan kata – kata dengan keras.

d). Makna kata

e). Menceritakan kembali cerita.

f). Ejaan

4). Pemeriksaan oleh pasangan.

5). Tes.

6). Pengajaran langsung dan memahami bacaan.

7). Seni berbahasa dan menulis terintegrasi.

8). Membaca independen dan buku laporan.

 

l.        TGT ( Team Game Turnament)

Secara umum, TGT sama seperti STAD. Bedanya TGT menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis – kuis dan sistem skor kemajuan individu, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.

Komponen – komponen TGT :

1). Presentasi di kelas

2). Tim

3). Game

4). Turnamen

5). Rekognisi tim

 

m.    Co-op Co-op

Co-op co-op adalah sebuah bentuk group investigation yang menempatkan tim dalam kooperasi antara satu dengan yang lainnya (seperti namanya) untuk mempelajari sebuah topik di kelas.

Langkah – langkah :

1). Diskusi kelas terpusat pada siswa

2). Menyeleksi tim pembelajaran siswa dan pembentukan tim.

3). Seleksi topik tim.

4). Pemilihan topik tim.

5). Persiapan topik kecil.

6). Presentasi topik kecil.

7). Persiapan presentasi tim.

8). Presentasi tim

9). Evaluasi.

 

n.      Jigsaw II

Kunci metode jigsaw ini adalah interdependensi adalah tiap siswa bergantung kepada teman satu timnya untuk dapat memberikan informasi yang diperlukan supaya dapat berkinerja baik pada saat penilaian.

Beberapa modifikasi adalah sebagai berikut :

1)      Daripada membuat para siswa merujuk kepada materi naratif untuk mengumpulkan informasi mengenai topik mereka, siswa juga bisa disuruh mencari serangkaian materi – materi perpustakaan atau kelas untuk mendapatkan informasi tersebut.

2)      Setelah para ahli menyampaikan laporan, mintalah siswa menuliskan esai atau memberikan laporan lisan daripada memberikan kuis.

3)      Anda juga bisa memberikan tiap tim topik yang unik untuk dipelajari bersama dan memberikan masing – masing anggota tim sebuah subtopik daripada sekedar menyuruh mereka mempelajari materi yang sama.

4)      Dan lain – lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: